KUBILAI KHAN DI MUNAS GOLKAR

MUSYAWARAH Nasional Luar Biasa Golkar di Nusa Dua, Bali, 17 Mei 2016, yang memilih Setya Novanto sebagai ketua umum, terbilang mewah. Panitia memesan 17 hotel bintang empat dan lima di kawasan Nusa Dua Convention Centre. Biaya untuk sewa gedung dan hotel itu saja sekitar Rp 25 miliar. Pertemuan yang ramai, dengan biaya besar, sudah sering dilakukan partai ini sejak awal berdiri.

Tempo edisi 15 September 1973 menulis ihwal musyawarah nasional (munas) yang pertama Golkar, dalam tulisan berjudul ”Kub Lai Kan Terusir di Surabaya”. Panitia munas yang berlangsung pada 4- 9 September 1973 di Surabaya itu memesan semua hotel. Mereka menyewa Gelora Pancasila sebagai tempat munas dengan biaya Rp 3,5 juta. Ada yang unik dari munas pertama Golkar itu. Pertama, sebagian besar dari 287 anggota panitia berasal dari ABRI.

Mereka membawa pistol di pinggang dan walkietalkie. Mereka meredam kritik, termasuk menyensor buletin yang dibagikan kepada peserta. ”Munas ini bagaikan pertemuan intel saja,” kata seorang peserta dari Sumatera kepada Tempo. Kedua, peserta tidak perlu memeras otak menyusun program atau berdebat keras. Semua konsep telah disiapkan panitia. ”Selaku utusan, kami hanya tukang aminlah,” ujar seorang peserta yang tidak bersedia disebutkan namanya. Malahan, pimpinan sidang komisi hingga pleno kewalahan dengan teriakan ”setuju, setuju” sebelum mereka selesai membacakan rancangan.

Termasuk pengangkatan Amir Murtono sebagai Ketua Umum DPP Golkar. Ketiga, sehari sebelum munas, peserta diajak kongko-kongko di Teater Pandaan. Mereka menonton drama dengan lakon Pengangkatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit. Ini cerita sejarah yang terjadi pada 1292, ketika angkatan perang Kerajaan Mongol menyerbu Tanah Jawa. Raden Wijaya berhasil memperdaya pasukan yang dikirim Kaisar Kubilai Khan itu untuk menyerang pesaingnya. Setelah berhasil, pasukan Raden Wijaya menyerbu tentara Mongol yang sudah letih. Sebagian tentara lari tunggang-langgang, berlayar ke kampungnya.

Raden Wijaya kemudian dilantik sebagai Raja Majapahit. Saat adegan penyerahan selempang dan mahkota, tiba-tiba terdengar teriakan ”setuju” dari tempat duduk penonton. Drama pengangkatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit ini banyak dihubungkan dengan jalannya Munas Golkar. Seorang peserta munas dalam logat Jawa berkata, ”Memang tidak ada pilihan selain setuju.” Dalam munas tersebut, Liem Biang Kie alias Jusuf Wanandi (pendiri Centre for Strategic and International Studies/CSIS) tersisih dari pusat kekuasaan di Golkar.

Sebaliknya, laskar bantuan yang menyelamatkan negeri dari kekuasaan Kubilai Khan digambarkan seolah-olah sama dengan peranan Hankam (Mabes ABRI) yang makin kokoh. Simbolisasi lain pada panglima yang merasa berjasa tapi diabaikan kemudian meninggalkan pentas. Oleh sebagian peserta munas ini diartikan sebagai Jenderal Suhardiman, pendiri Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), yang semula disebut-sebut sebagai calon ketua dewan pimpinan pusat.

Pada hari ketiga munas, Suhardiman kesal dan kembali ke Jakarta. Munas Golkar di Surabaya, 4-9 September 1973, akhirnya memilih 17 orang DPP, dengan ketua umum Jenderal Amir Murtono dan dua ketua, yaitu Brigjen Manihuruk dan Nely Adam Malik. Adapun sekretaris jenderal dijabat kembali oleh Brigjen Saparjo dan bendahara ditunjuk Murdopo.

DETEKTOR RACUN KARKAS

ALAT yang diberi nama Smart Tetracycline Residual Kit Detection (Startec) ini sanggup mendeteksi residu tetrasiklin pada daging unggas seperti ayam. Penemunya lima mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, yaitu Bekti Sri Utami, Hana Razanah, Puspita Diah Pravitasari, Fitri Indah Permata, dan Annisa Rizqi Rafrensca. Mereka berasal dari Fakultas Kedokteran Hewan—kecuali Puspita, dari Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Tetrasiklin adalah obat antibiotik sekaligus pemacu pertumbuhan ternak.

Tapi penggunaan berlebihan dan terus-menerus akan menyisakan endapan pada daging. Bila terkonsumsi manusia, bisa mengakibatkan alergi, mengurangi bakteri baik, menimbulkan hipersensitivitas, dan menjadi racun dalam tubuh. Ide pembuatan Startec berawal dari kegusaran mereka melihat peternak menggunakan tetrasiklin berlebihan. Peternak lebih mengandalkan pengalaman ketimbang menakar antibiotik dengan dosis tertentu.

”Lantas saya dan teman-teman terpikir untuk membuat alat penguji tetrasiklin,” kata Bekti, Kamis dua pekan lalu. Perangkat mulai dibuat pada Maret lalu dengan modal Rp 7,5 juta dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta yang diluncurkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Mulanya tim mengkaji kandungan tetrasiklin dalam daging ayam, lalu mendesain alat pendeteksinya.

Setelah desainnya lengkap, mereka meminta bantuan rekan mereka, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Brawijaya, untuk membuatkan rancang bangunnya. ”Alat dibuat di bengkel dengan biaya Rp 700 ribu,” ujar Puspita. Startec terdiri atas empat komponen utama, yakni tuas penumbuk, alat suntik, cawan daging ayam, dan penyangga. Komponen terakhir itu berfungsi sebagai tempat meletakkan tiga suku cadang lain. Bentuknya bulat dengan tinggi sekitar 15 sentimeter dan diameter 5 sentimeter.

Setelah jadi, Startec diujicobakan pada karkas ayam broiler. Hasilnya, alat ini mendeteksi kandungan tetrasiklin seberat 0,5 part per million (ppm). Padahal batas tertinggi residu tetrasiklin pada daging ayam sesuai dengan standar nasional adalah 0,1 ppm. Meski sukses, alat ini masih punya kekurangan: belum mampu mendeteksi kandungan tetrasiklin di bawah 0,5 ppm. Startec hanya sanggup melacak endapan tetrasiklin 0,5-1.000 ppm.

Karena itu, tim berencana menyempurnakannya. Startec diklaim sebagai inovasi baru. Lewat Universitas Brawijaya, Puspita dan kawan-kawan mendaftarkan paten ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Mereka berencana memproduksi Startec secara massal.

Website : kota-bunga.net