Retrospeksi Sardono W. Kusumo Bag8

Dia menari di depan saya. Seluruh tubuhnya bergerak. Tiba-tiba ia menjerit melengking,” ucap Sardono. Kejadian itu sangat membuka mata Sardono. ”Saya sadar tari Dayak tidak butuh iringan gamelan atau lakon. Hanya telanjang dada. Betul-betul ekspresif.” Sardono tiba-tiba seolah-olah tercerahkan dan kemudian memiliki pemahaman lain tentang tari Jawa yang mungkin banyak tak disetujui orang. ”Tari Jawa itu kaya unsur seni pertunjukannya, seperti gamelan, kostum.

Tapi garapan tubuhnya sendiri miskin.” Sejak itu, Sardono haus petualangan tubuh. Ia tidak mau terikat pada bentuk-bentuk klasik Jawa. Sardono, yang pernah menjadi penari tangguh Hanuman di Prambanan dan meriset gerak monyet dengan cara melempari monyet di kebun binatang dengan batu, lalu dalam menari membebaskan diri dari ekspresi ornamen tari klasik Jawa yang baku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *