Belajar Mengingat Wajah Dan Nama

Meski konsep keluarga baru sebatas figur terdekat, mengenalkan anak dengan lingkungan di luar keluarga inti sangat perlu. Bagaimana caranya? Arva sedang pamer kemam- puan adiknya, Athara. “Dek, Uti yang mana?” Athara memutar badannya lalu menunjuk nenek dari pihak ayahnya. “Bagus,” kata Arva, “Sekarang, Tante Tuti yang mana?” Athara pun menunjuk tante yang merupakan adik ayahnya. “Bude yang mana?” tanya Arva merujuk pada kakak perempuan bundanya. Sekali ini Athara terdiam, meski sudah melirik budenya dengan ragu-ragu.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Tidak seperti dua pertanyaan sebelumnya, sekali ini Athara hanya melirik saja tanpa menunjuk, dan wajahnya pun tak antusias. Sang kakak mengajukan pertanyaan berikutnya, “Kalau Kakak Ilham yang mana?” Athara kembali bersemangat dan me nunjuk anak tetangga sebelah rumah yang sedang bermain di rumahnya. Ya, pada usia batita, anak masih belum mengerti hubungan keluarga. Meskipun keluarga dekat, jika jarang berinteraksi, ia tak mudah mengenal sosok tersebut. Sebaliknya, meskipun hanya tetangga di kompleks, tetapi sering bermain bersama, anak akan cenderung mudah mengenalinya.

Kenal, Tapi Tak Bermakna

“Pada prinsipnya batita belum memahami figur-figur yang digolongkan sebagai keluarga,” ujar psikolog Alfa Restu Mardhika. Menurutnya, batita bisa menghafal nama-nama keluarga besar, namun tidak bisa memaknai apa itu paman, bibi, sepupu, dan lainnya. Demikian pula ia mungkin sudah mengenali tetangganya, tanpa memahami makna “tetangga” itu sendiri. Meski demikian, kemampuan batita menjawab pertanyaan tentang dirinya sudah cukup berkembang.

Bila ditanya, “Adek anak siapa?” Mereka biasanya sudah mampu menyebutkan nama ayah dan ibunya. Setidaknya, batita sudah tidak tertukar menyebut ayah dengan nama ibunya atau ibu dengan nama ayahnya. Mereka sudah bisa mengucapkan “Papa Hari” atau “Mama Ranti”, misalnya, meski belum sempurna. “Meski konsep keluarga baru sebatas figur terdekat, mengenalkan anak dengan lingkungan di luar keluarga inti sangat perlu. Terlebih lagi bila orang-orang tersebut masih memiliki hubungan darah dengannya,” ujar Alfa.

Pengenalan tentang posisi dalam keluarga dapat dikenalkan lewat kegiatan sehari-hari, tanpa secara khusus mengajarinya pada anak. Ceritakan mengenai kebiasaankebiasaan anggota keluarga serta keluarga besar yang pernah ditemui oleh anak seperti kakek dan neneknya, demikian Alfa memberikan tip. Misal, ”Adek enggak bisa setiap hari ketemu Kakek karena Kakek tinggal di kota Bandung.”

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *