Premium Vs “Predator”

Pergerakan harga ponsel yang dinamis menjadi salah satu inti dari strategi Sony Mobile Communications. Apalagi di negara-negara seperti Indonesia yang tetap dianggap masih berpotensi besar membeli produk, begitu melimpah oleh variasi produk dengan segala tawaran harganya. Bahkan, menurut Ika Paramita, Product Manager, Sony Mobile Communications Indonesia, Indonesia sering dapat “hak istimewa” untuk membuka harga lebih “miring” dibandingkan negara lain.

Baca juga : Net89

Tetapi penciptaan teknologi komponen dan chipset seringkali tidak sejalan dengan kebijakan harga terjangkau. Komponen layar misalnya – yang merupakan part paling mahal- dengan penambahan fasilitas termasuk pelapis layar, tak bisa dipangkas. Pabrikan global tak mau berisiko membuat konsumen tak nyaman. Umpamanya, Sony yang menambahkan teknologi Triluminos ditambah LED yang menciptakan live colour pun masih ditambah XReality sehingga layar tetap terang meski “disiram” oleh intensitas terik mentari yang tinggi.

Kendati jika tanpa seabrek teknologi ini, konsumen tak juga ngomel. Bagi pabrikan macam Sony, tak bisa lengahkan hal ini. Dengan kata lain “no excuse”. Sementara pabrikan lokal atau Tiongkok tak akan ambil pusing. Bagi mereka, hal paling penting adalah memangkas seideal mungkin harga komponen agar kelak harga jual berada di kategori terjangkau. Tetapi kini, standar baru telah ditorehkan oleh beberapa pabrikan baru. Sedikitnya, ada tiga hal penting yang jadi standar untuk komponen. Layar jernih, prosesor cepat, dan kamera high resolution.

Mereka tidak peduli penambahan teknologi lain selain tiga hal ini. Sementara, paradigma baru juga ikut dikebut. Yaitu, layanan mobile internet sebagai solusi anyar. Maka, ada cloud storage, messenger service, hingga live theme. Bagi pengguna awam hal ini tak terlalu penting, tetapi bisa jadi value added meski sekadar lips services. Dan, pabrikan-pabrikan ini sukses memangkas harga. Xiaomi Mi3 misalnya yang menggunakan baterai Samsung, harga per baterai dengan kapasitas yang sama lebih murah ketimbang salah satu seri Galaxy.

Ini menarik, sekaligus menim bulkan pertanyaan; apakah benar Samsung naikkan harga baterai atau Xoami yang bisa menego agar diberi harga lebih murah? Dan, selain Xiaomi, OnePlus pun telah bersiap, kabar terakhir brand kedua ini sudah me-preorder-kan seri OnePlus One yang memakai CyanogenMod. Mereka seperti predator yang akan melumat siapa pun yang tak melek teknologi dan yang berani pasang harga tinggi. Sungguh pun itu brand global. Brand global, memiliki opsi bertahan pada premis “Premium brand”.

Yang namanya premium, bukan sekadar pasang komponen tertinggi, namun juga cita rasa desain dan material terbaik. Kemudian tak ketinggalan up date teknologi seperti DESS HX pada audio Sony Xperia Z3, ISO yang lebih tinggi sehingga bisa memotret lebih baik, juga pada seri ini. Cukupkah sampai di sana? Tidak juga. Karena ada layanan di belakangnya yang ikut memberi kontribusi agar eksklusivitas terus terjaga.

Beruntung Sony punya PlayStation, Sony Music, dan Sony Entertainment. Bahkan kabarnya, dengan seabrek layanan multimedia digital itu, Sony akan bikin semacam iTunes-nya Apple. Saya rasa, sekarang istilah “Premium” harus terdef nisikan secara jelas agar tak semua pabrikan bisa klaim produknya premium. Tetapi sebenarnya cuma premium “aksesori” belaka. Ini akan membodohkan konsumen yang bingung memilih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *