Demam Lada Dipicu Harga Bag3

Tidak seperti perkebunan kakao dan sawit yang membutuhkan lahan skala besar, berkebun lada bisa di lahan yang tak terlalu luas. Bahkan lada bisa ditanam dalam pot. ”Petani lada punya seribu meter termasuk relatif kaya. Kalau punya satu hektare sudah kaya raya,” kata Thoriq. Asalkan keringnya sempurna, hasil panen lada bisa disimpan bertahun-tahun hingga mendapatkan harga jual tertinggi. Yogi Sungkowo memberi perkiraan kasar hitung-hitungan untung-rugi lada.

Menurut dia, rasio biaya dibandingkan dengan penjualan lada mencapai 1 : 3. Artinya, dengan produksi minimal 1 ton per hektare, setiap 1 rupiah biaya yang dikeluarkan petani bisa menghasilkan 3 rupiah. Di tingkat petani, biaya produksi lada putih—dari persiapan tanam hingga pengolahan pasca-panen—mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Sedangkan harga penjualan lada dalam beberapa tahun ini stabil di atas Rp 100 ribu.

Selain meraup untung dari hasil panen, petani bisa menikmati penghasilan tambahan dari panen tanaman sela, seperti kacang-kacangan dan jahe. Menurut Yogi, ternak petani juga mendapat keuntungan karena pakannya dipasok dari pemangkasan rutin pohon rambatan lada dan tanaman pagar. ”Kotoran ternaknya dikembalikan lagi ke lahan sebagai pupuk,” ujar Yogi. Meski bercocok tanam lada menggiurkan, Direktur Pelaksana PT Amanjaya Lampung Selvi Aprilia khawatir demam lada membuat harga jatuh.

”Kalau semua orang tanam, pasokan akan terlalu banyak sehingga harga murah,” katanya. Selvi berharap pemerintah memberikan penyuluhan yang benar kepada petani agar tidak hanya ikut-ikutan. Amanjaya selama ini membeli hampir 75 persen lada yang diproduksi di Lampung. Volumenya rata-rata 200 ton per hari. Hampir seluruhnya diekspor mentah ataupun setengah jadi ke Amerika, Jepang, Eropa, dan Rusia. ”Hanya 5 persen ke pasar lokal,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *